Beranda Cerpen Informasi Soal Online Kelas VI Soal Online Kelas V Soal Online Kelas IV Soal PH Soal PTS Soal PAS Soal Matematika Soal Literasi Soal Numerasi Soal US Artikel Perangkat KBM Materi Kelas VI Materi Kelas V Materi Kelas IV Motivasi Solusi Profile Contact

Jumat, 20 Mei 2022

Putri Penyapu Awan

Cerita fiksi Putri Penyapu Awan
Tanggung jawab merupakan salah satu hal yang harus dipelajari oleh anak-anak. Memiliki sikap tanggung jawab dapat menjadi salah satu penentu kesuksesan anak di masa depan. Sayangnya, menumbuhkan rasa tanggung jawab anak tidak dapat dilakukan dalam semalam. Perlu beberapa waktu untuk menyerap kebiasaan tersebut. Dengan membantu menumbuhkan sikap tanggung jawab anak, juga menggali potensi penuh dari dalam diri.

Tanggung jawab adalah melaksanakan suatu hal yang wajib untuk dilakukan. Tanggung jawab meliputi hal-hal berikut: Dapat diandalkan, Menepati kata-katanya, Melakukan yang terbaik dalam setiap kesempatan, Berani mengakui kesalahan, Membantu keluarga, teman-teman, dan lingkungan sekitar. Tanggung jawab juga melibatkan kepercayaan, mampu membuat keputusan, serta tidak mengakui sesuatu yang bukan haknya.


Bertanggung jawab tidak hanya bagaimana pilihan yang dibuat oleh seseorang untuk memengaruhi hidupnya, tapi juga bagaimana itu berdampak ke orang lain. Dengan memiliki rasa tanggung jawab, anak akan merasa dibutuhkan. Ia juga bangga karena telah berkontribusi membantu anggota keluarga dan orang-orang di sekitarnya.

Ulasan tersebut senada dengan cerita fiksi yang menarik berikut ini. Yuk … simak dan ambil hikmahnya ya sahabat!!!

Apakah teman-teman pernah mendengar namaku? Tidak? Ah, sudah kuduga. Orang orang memang tidak pernah peduli padaku. Itulah sebabnya aku menjadi sedih. Kalau mendengar namaku, teman-teman pasti tahu tugasku. Ya, menyapu awan-awan agar hujan tidak turun di musim kemarau. Akan tetapi, sekarang aku sedang bosan dengan tugasku. Berat sekali menyapu awan yang besar-besar itu. Aku sampai berkeringat.

Tiba-tiba aku mendengar percakapan dua anak manusia. Aku tahu, nama mereka Dharma dan Dhanila. Mereka tinggal di negeri yang sedang musim kemarau, "Huuh, panas sekali!" seru Dharma. "Iya," sahut Dhanila. "Coba ada awan yang selalu memayungi langkah kita. Pasti Matahari tidak akan bersinar begitu terik. "Ini pasti ulah Penyapu Awan!" gerutu Dharma. Dhanila menoleh, "Siapa dia?"

"Ah, dia hanya si jelek penyapu awan-awan yang seharusnya meneduhkan kita!" kata Dharma. Apa? Dharma menyebutku si jelek? Tentu saja aku sebal mendengar obrolan kedua anak itu. Huh, mereka cuma iri padaku! Hmm, aku ingin membalas mereka. Pelan-pelan, aku mengambil sapuku. Awan-awan yang sudah kukumpulkan di sudut langit aku acak-acak lagi. Nah, sekarang awan bertebaran di mana-mana. Hihi, pasti sebentar lagi turun hujan. Duarr! Benar saja. Petir, temanku, mulai menepukkan tangannya hingga mengeluarkan bunyi keras. Hahaha... aku tertawa melihat Dharma dan Dhanila lari mencari tempat perlindungan. Kini, hujan rintik-rintik mulai turun. Semakin lama, semakin deras. Hahaha aku terpingkal-pingkal melihat Dharma dan Dhanila berlari dengan tubuh basah kuyup. Rasakan pembalasanku!

Ups, siapa yang datang? Oh, Dewa Matahari mendatangiku! Apa yang harus kulakukan? Aku harus bersembunyi! Aku buru-buru mengambil sapuku. Tapi, belum sempat aku berlari, Dewa Matahari sudah memegang tanganku. "Putri Penyapu Awan! Apa yang kamu lakukan? Mengapa kamu tidak melakukan tugasmu?" tanya Dewa Matahari dengan marah. "sa…ss...saya....," jawabku dengan gugup. Oh, apa yang harus kukatakan?

Tiba-tiba Dewa Matahari melihat Dharma dan Dhanila yang basah kuyup. "Siapa mereka?" tanya Dewa Matahari. Haruskah aku berterus terang? Aku pun terisak. "Dharma dan Dhanila. Mereka menyebutku si jelek." Dewa Matahari tersenyum. Ugh, bagaimana mungkin dia bisa tersenyum, padahal hatiku begitu sakit.

"Ayo, ikut aku!" ajak Dewa Matahari. Aku menurut dan mengikutinya. Dewa Matahari berkata, "Putri Penyapu Awan, lihatlah di sebelah sana!" Aku memandang ke arah yang ditunjuk Dewa Matahari. Seorang laki-laki bersama istrinya sedang memandang hujan dari jendela rumah mereka.

"Kenapa hujan turun di musim kemarau? Tanaman kita akan jadi rusak," keluh sang lelaki. "Jadi, kita tidak akan bisa panen?" tanya sang istri. Laki-laki itu menarik napas panjang. "Panen?! Semua tanaman di ladang kita pasti busuk." Aku melihat air mata mengalir di pipi perempuan itu. Tanpa sadar, aku mengusap pipiku juga. Basah oleh air mata. Dewa Matahari memandangku, "Bagaimana? Sudah melihat hasil perbuatanmu?"

Aku mengangguk. Ya, semua ini salahku. Aku hanya mencari kesenanganku sendiri tanpa memikirkan orang lain. Aku senang bisa membalas kelakuan Dharma dan Dhanila. Tapi, aku tidak berpikir kalau apa yang kulakukan bisa menyusahkan orang lain, Seandainya awan tidak kusebar, hujan tidak akan turun. Tanaman di ladang petani itu tidak akan busuk. Mereka akan menikmati panen dan bisa hidup dari hasil panen itu. Kutahan air mataku. Aku kembali menyapu awan-awan. Ternyata, tugasku sangat berarti bagi orang lain. Aku tak peduli lagi meskipun ada yang mengatakan aku jelek. Tidak ada orang yang sempurna di dunia ini. Apa pun yang dikatakan orang lain, aku tetap bangga pada diriku, Putri Penyapu Awan.


Sikap tanggung jawab pastinya memiliki manfaat yang sangat besar bagi kehidupan. Sebab, sikap yang satu ini perlu dimiliki oleh semua orang. Bagaimana bisa kita hidup tanpa adanya rasa tanggung jawab. Padahal hidup itu sendiri merupakan tanggung jawab masing-masing orang. Dimana kita diharuskan untuk bertanggung jawab atas hidup kita sendiri, berbuat baik dengan orang lain, dan bertanggung jawab atas apa yang kita lakukan.

Terima kasih sudah berkunjung dan membaca cerita fiksi insfirasi yang berjudul “Putri Penyapu Awan”. Semoga dengan adanya cerita fiksi tersebut dapat memberikan sebuah hikmah positif bagi kita semua dan semoga memberikan pembelajaran bermakna.

Kritik dan saran sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas situs www.liangsolusi.com ini. Semoga postingan yang disajikan bermanfaat untuk kita semua.

Mari berkolaborasi dan tebarkan perilaku baik dengan membagikan postingan ini di media sosial kalian! Budayakan meninggalkan komentar dan sebarkan jika bermanfaat setelah membacanya.

0 comments:

Posting Komentar